Selasa, 02 Oktober 2012

WAKTU-WAKTU SHALAT FARDHU


WAKTU SHALAT FARDHU

1.                  Shalat Dhuhur
Makna Dhuhur adalah waktu zawal (tergelincirnya matahari). Dan yang dimaksud dengan zawal adalah :
ميل الشمس عن كبد السماء إلى المغرب.
“Tergelincirnya matahari dari pusat/tengah langit ke arah barat” [Mishbaahul-Muniir, Majmuu’ 3/24, dan Al-Mughniy 1/372 – melalui Shahih Fiqhis-Sunnah 1/237].

Waktu mulai tergelincirnya matahari adalah waktu dimulainya shalat Dhuhur. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hal ini. Dinamakan ‘Dhuhur’ karena ia merupakan shalat pertama yang dilakukan oleh malaikat Jibril bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam
Para ulama berbeda pendapat mengenai berakhirnya waktu Dhuhur. Yang rajih adalah ketika bayangan benda sama dengan tingginya, sebagaimana hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhuma di atas.
Mengenai hadits Jaabir bin ‘Abdillah Al-Anshariy radlyallaahu ‘anhuma :
خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى الظهر حين زالت الشمس وكان الفيء قدر الشراك ثم صلى العصر حين كان الفيء قدر الشراك وظل الرجل
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk melaksanakan shalat Dhuhur saat matahari telah tergelincir dimana panjang bayangan sama dengan tali sandal, lalu beliau mengerjakan shalat ‘Ashar saat panjang bayangan sama dengan tali sandal dan tinggi orang” [Diriwayatkan oleh An-Nasa’iy no. 524; shahih].
Maka maksud hadits tersebut adalah beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat Dhuhur di akhir waktu dan selesai pada panjang bayangan sama dengan tingginya. Saat itulah waktu ‘Ashar masuk.

2.                  Shalat ‘Ashar
‘Ashar : Dimutlakkan untuk waktu sore hingga matahari berwarna kemerah-merahan, yang saat itu merupakan akhir waktu siang. Shalat ini juga disebut sebagai shalat Wusthaa. Awal waktu ‘Ashar adalah dimulainya panjang bayangan sama dengan tinggi benda. Ini adalah madzhab jumhur ‘ulama, berdasarkan dalil di atas. Abu Hanifah mempunyai pendapat lain ketika ia menyatakan bahwa waktu ‘Ashar dimulai ketika panjang bayangan dua kali tinggi benda.
Para ulama berbeda pendapat mengenai batas akhir waktu ‘Ashar. Yang rajih adalah sampai matahari menguning atau memerah – sebagaimana hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radliyallaahu ‘anhuma yang disebutkan di awal. Dan juga hadits Abu Musa radliyallaahu ‘anhu :
أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى في اليوم الأول العصر والشمس مرتفعة، وفي اليوم الثاني أخر العصر فانصرف منها والقائل يقول : احمرَّت الشمس....
“Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah melaksanakan shalat ‘Ashar pada hari pertama yang saat itu matahari masih tinggi. Dan pada hari kedua, beliau mengakhirkan shalat ‘Ashar hingga ada yang berkata : ‘Matahari telah berwarna kemerah-merahan….” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 614, Abu Dawud no. 395, dan An-Nasa’iy no. 523].

3.                  Shalat Maghrib
Maghrib secara asal bermakna : terbenamnya matahari, atau ketika matahari akan tenggelam. Dimutlakkan menurut bahasa pada makna waktu dan tempat terbenamnya matahari. Pada waktu itulah shalat Maghrib dilaksanakan. Pada masyarakat ‘Arab dahulu, orang-orang sering menyebut Maghrib dengan ‘Isya’. Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya melalui sabdanya :
لا تغلبنكم الأعراب على اسم صلاتكم المغرب ! قال : وتقول الأعراب : هي العشاء.
“Janganlah kalian dipengaruhi oleh orang-orang ‘Arab baduwi dalam menyebut nama shalat kalian, yaitu Maghrib. Orang-orang Arab Baduwi menyebutnya : ‘Isya’” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 563].
Awal waktu Maghrib adalah ketika matahari terbenam dan hilang secara sempurna. Para ulama telah bersekapat mengenai hal ini.
عن سلمة بن الأكوع أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يصلي المغرب إذا غربت الشمس وتوارت بالحجاب.
Dari Salamah bin Al-Akwa’ ia berkata : “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa mengerjakan shalat Maghrib saat matahari telah terbenam dan tidak nampak” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 561, Muslim no. 636, Ibnu Majah no. 688, Ahmad 4/54, dan yang lainnya].

4.                  Shalat ‘Isya’
‘Isya’ adalah nama dari awal kondisi gelap dari terbenamnya matahari hingga benar-benar gelap di waktu malam. Dinamakan shalat ‘Isya’ karena ia dilakukan pada waktu tersebut. Shalat ‘Isya’ disebut juga Shalaatul-Aakhirah, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
أيما امرأة أصابت بخورا، فلا تشهد معنا العشاء الآخرة
“Wanita mana saja yang memakai wewangian, maka janganlah ia menghadiri Shalatul-Aakhirah (shalat ‘Isya’) bersama kami “ [Diriwayatkan oleh Muslim no. 444, Abu Dawud no. 4175, An-Nasa’iy no. 5128 dan 5263, Abu ‘Awaanah 2/17, Al-Baihaqiy 3/333, serta Al-Baghawiy no. 861].
Selain itu, shalat ‘Isya’ juga dinamakan dengan shalat ‘atamah, sebagaimana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :
لو يعلم الناس ما في النداء والصف الأول، ثم لم يجدوا إلا أن يستهموا لاستهموا عليه. ولو يعلمون ما في التهجير لاستبقوا إليه، ولو يعلمون ما في العتمة والصبح لأتوهما ولو حبوا
“Sekiranya orang-orang mengetahui keutamaan menyambut seruan adzan dan berada di shaff pertama kemudian hal tersebut hanya dapat diraih dengan mengundi, niscaya mereka akan mengundi demi mendapatkannya. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan at-tahjiir (shalat di awal waktunya), niscaya mereka akan berlomba mengerjakannya. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan shalat ‘atamah (‘Isya’) dan Shubuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun harus merangkak” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 615, 653, 720, 2689; Muslim no. 437; At-Tirmidziy no. 225-226, An-Nasa’iy no. 540, 671; Ibnu Khuzaimah no. 391, 1475, 1554; Abu ‘Awaanah 1/333, 2/37; Ibnu Hibban no. 1659, 2153; dan yang lainnya].

5.                  Shalat Fajar/Shubuh
Fajar secara asal maknanya adalah : asy-syafaq (cahaya/mega yang berwarna kemerahan). Asy-syafaq yang muncul di akhir malam seperti asy-syafaq yang muncul di awal malam. Fajar itu ada 2 (dua) :
 Fajar Kadzib : adalah warna putih di arah timur, panjang yang menjulur ke atas seperti ekor serigala.
 Fajar Shadiq : adalah warna merah yang naik dan muncul dari arah timur (setelah berlalunya Fajar Kadzib), sehingga terlihat jelas perbedaan antara malam dan siang.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
الفجر فجران فأما الأول فإنه لا يحرم الطعام ولا يحل الصلاة واما الثاني فإنه يحرم الطعام ويحل الصلاة
“Fajar itu ada dua macam : Adapun fajar yang pertama, tidak diharamkan makan dan tidak dibolehkan mengerjakan shalat (shubuh); sedangkan fajar yang kedua, diharamkan makan dan dibolehkan mengerjakan shalat shubuh” [HR. Ibnu Khuzaimah no. 1927; shahih].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar